
"Berapa umurmu?"
"** (sensor ala tetangga dari gunung)."
"Udah kawin belum?"
"Belum."
"Lagi pacaran dong."
"Yupz. Sedang pacaran sama kamu nie (karena memang sedang chating dengan dia)"
"Pernah pacaran?"
"Nggk. (jawaban yang salah. Seharusnya jawab belum - karena berharap bisa pacaran setelah menikah)."
"Belum pernah pacaran?"
"Aku berniat pacaran setelah menikah saja."
"Walah, belum tersentuh dong :P"
"Itu hal yang tidak mungkin. Ada kala kita di kendaraan yang sempit. Tentu saja tersentuh banyak orang."
"Maksudku di sentuh sambil di nikmati gitu loh..."
"Hikz, mengerikan!"
":-? (mengeluarkan icon berfikir)."
"Kenapa?"
"Aneh deh.
Yupz! Mungkin beginilah kehidupan kita sekarang. Kita akan dianggap ANEH jika usia sudah melewati batas kanak-kanak namun tidak pacaran. Dengan dalih saling mengenal, kita sering melakukan penghalalan cara untuk melegalkan pacaran.
Sangat beda dengan orang zaman dulu. Ketika orangtua saya menikah dulu, mereka belum mengenal satu sama lain. Namun pernikahan mereka langgeng ~semoga hingga kelak di firdaus-Nya~. Bahkan, hingga saya dewasa kini, belum pernah sekalipun saya melihat mereka bertengkar. Mungkin banyak yang tidak percaya, karena dalam kehidupan rumah tangga sangat rawan terjadi perselisihan. Yupz! Sayapun yakin akan hal itu. Dan sayapun yakin, dalam rumah tangga orangtua saya pasti ada perselisihan. Namun entah bagaimana cara mereka menyelesaikannya. Yang jelas, mereka benar-benar bisa menjadi panutan buat kami , putra-putri mereka.
Ketika masih kanak-kanak, sering saya menyaksikan pertengkaran suami-istri di sekitar tempat tinggal saya. Dari sekedar perang kata-kata mempertahankan argumentasi masing-masing, hingga saling menerbangkan perkakas rumah tangga. Bahkan hingga saling memukulpun pernah saya saksikan. Tapi Alhamdulillah, hal semacam ini belum pernah sekalipun saya saksikan pada orangtua kami. Dan semua itu bermula dari pernikahan yang tanpa pacaran.
"Masak sih kamu belum pernah pacaran, Q?" seorang teman wanita saya pernah bertanya.
"Yupz!" saya menyahut dengan sangat yakin. Mantap.
"Pantes aja kamu tetap kekanak-kanakan gitu." Guuuuubrag!!!
Masak sih, saya kekanak-kanakan karena belum pernah pacaran? Apakah untuk mendewasakan diri kita harus melalui tahap pacaran dulu? Saya tidak merasa yakin akan hal itu (udah dari sononya begini kali…)
Saya jadi ingin bertanya, di mana letak keanehan seseorang yang tidak pacaran sebelum menikah? Sedangkan Allah Subhanahu wa Ta’ala telah dengan tegas berfirman dalam surat Al-Israa’ : 32
Dan janganlah kamu mendekti zina; sesungguhnya zina itu suatu perbuatan yang keji. Dan suatu jalan yang buruk.
Ayat itu menyatakan larangannya mendekati zina. Hanya mendekati saja dilarang, apalagi sampai melakukannya.
Lha kitakan cuma menjalani tahap pengenalan saja? Nggak sampai berzina?
Yakin?
Pacar; menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, adalah teman lawan jenis yang tetap dan mempunyai hubungan berdasarkan cinta kasih; kekasih.
Berpacaran, bercintaan; berkasih-kasihan.
Apakah mungkin seseorang yang berpacaran, bercintaan, berkasih-kasihan, tidak melakukan zina? Dari cerita yang dapat saya himpun, dalam berpacaran, minimal kita akan saling menatap, atau menyentuh tangan. Apakah ini bukan zina? Jelas dia bukan muhrim kita. Kita belum halal menyentuhnya. Dengan demikian, satu titik zina telah kita lakukan di sini. Zina mata! Itu yang paling beruntung bagi kita jika selamat dari penyesatan syetan. Kalau kita tidak tahan dengan godaan, kita akan melakukan lebih dari itu. Naudzibullah mindzaalik.
Kita semua tahu, resiko dari pacaran. Karena itulah, kehati-hatian sangat diperlukan dalam hal ini. Semoga kita terhindar dari perbuatan yang tidak di ridhoi Allah Subhanahu wa Ta’ala.
Jadi, jika saya memutuskan untuk tidak pacaran sebelum menikah, bukan berarti saya manusia aneh yang tidak normal. Insya Allah saya normal, senormal-normalnya. Seperti juga Anda. Hanya saja, saya menginginkan keredhaan-Nya. Melalui jalan yang selamat.
Wallahu’alam bisshowab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar