
"Aku tidak ridho istriku bekerja." Begitu seorang ikhwan berkata kepadaku suatu hari.
"Tapi dia sudah memutuskan untuk bekerja." Sahutku.
"Entahlah." Sahutnya dengan suara putus asa. Meskipun si wanita adalah temanku sendiri, aku tetap merasa heran, kenapa wanita tersebut tetap nekat bekerja di luar rumah. Padahal suaminya jelas-jelas bilang tidak ridho. Pikiranku semakin jauh ketika kutanya pada diri sendiri, apakah aku juga akan seperti dia? Meskipun keinginan terbesarku saat ini adalah menjadi ibu rumah tangga saja? Seperti wanita kampung apa adanya (tapi percaya deh aku nggak kampungan, kampungan amat Hikz...)
Kebanyakan wanita di kampung hanyalah seorang ibu rumah tangga. Pada awalnya mereka tidak faham apa yang disebut wanita karir. Namun sejalan dengan kemajuan zaman, kini merekapun mulai berfikir mengenai eksistensi wanita. Tidak sedikit wanita kampung yang mulai berubah, ingin hidup menjadi bagian dari kehidupan kota. Menjadi terlihat keberadaannya dengan berkiprah dikehidupan luaran sana. Tidak peduli apakah suami ridha atau tidak. Mencoba merayu untuk meluluhkan hati suami agar diperkenankan bekerja di luar rumahnya. Bahkan tidak sedikit yang menggunakan dalih kesamaan gender. Wanita bebas memilih jalannya. Mau bekerja atau tidak, wanita memiliki hak yang sama.
Setidaknya begitu yang terjadi dari sebagian teman yang pernah curhat kepadaku, dan yang pernah kutanya.
Fakta ini mengingatkanku pada seorang wanita yang tinggal di sebuah perkampungan yang jauh dari kehidupan kota. Di tempat yang listrikpun belum masuk ke desanya. Air masih harus menimba. Memasak masih menggunakan kayu bakar. Meniup api dengan bambu agar tetap menyala. Dan lampu-lampu penerang dinyalakan dengan minyak tanah. Sungguh melelahkan. Namun ia tiada mengeluh dengan kehidupan ini. Kehidupan yang baginya sudah sangat biasa.
Setiap pagi diawalinya dengan dengan qiyamul lail, membangunkan suaminya turut serta bersamanya. Dan begitu subuh tiba ia panggil putra-putrinya memenuhi panggilan Allah. Dan sholat berjamaahpun ditunaikan.
Bukan rembulan yang ada dalam tatapan teduhnya yang penuh kasih sayang. Juga bukan pendar cahaya bintang di sana, namun di sana ada ketulusan, ketulusan seorang wanita yang sangat biasa. Serta sebuah keikhlasan.
Sebagai istri seorang petani, dia begitu telaten dan sabar mengurus kebutuhan keluarga. Menyiapkan sarapan untuk anak-anak yang akan berangkat sekolah, dan suami yang akan mencari rizki di ladang. Kembali menyibukkan diri dengan kerjakan yang masih menumpuk ketika semua telah pergi. Membersihkan rumah, mencuci piring, mencuci pakaian, dan kembali memasak untuk kebutuhan makan siang. Sebuah pekerjaan yang cukup melelahkan.
Namun, dia tetap tersenyum! Apapun yang sedang ia lakukan ditinggalkannya ketika melihat suaminya mengayuh sepeda memasuki halaman rumah. Menyambutnya dengan selembar handuk kecil yang kemudian diusapkan ke wajah yang lelah, ke badan yang berkeringat. Menyeduhkan secangkir kopi. Dan menemaninya berbincang seraya menyuguhkan makan siang. Menimba air untuk mandi. Sungguh tersirat bangga pada tindak-tanduknya, bangga menjadi ibu rumah tangga. Dan kuyakin, di sanalah kudapati sebuah teladan. Dari wanita kampung yang selalu kukenang. Ibu…
"Tapi dia sudah memutuskan untuk bekerja." Sahutku.
"Entahlah." Sahutnya dengan suara putus asa. Meskipun si wanita adalah temanku sendiri, aku tetap merasa heran, kenapa wanita tersebut tetap nekat bekerja di luar rumah. Padahal suaminya jelas-jelas bilang tidak ridho. Pikiranku semakin jauh ketika kutanya pada diri sendiri, apakah aku juga akan seperti dia? Meskipun keinginan terbesarku saat ini adalah menjadi ibu rumah tangga saja? Seperti wanita kampung apa adanya (tapi percaya deh aku nggak kampungan, kampungan amat Hikz...)
Kebanyakan wanita di kampung hanyalah seorang ibu rumah tangga. Pada awalnya mereka tidak faham apa yang disebut wanita karir. Namun sejalan dengan kemajuan zaman, kini merekapun mulai berfikir mengenai eksistensi wanita. Tidak sedikit wanita kampung yang mulai berubah, ingin hidup menjadi bagian dari kehidupan kota. Menjadi terlihat keberadaannya dengan berkiprah dikehidupan luaran sana. Tidak peduli apakah suami ridha atau tidak. Mencoba merayu untuk meluluhkan hati suami agar diperkenankan bekerja di luar rumahnya. Bahkan tidak sedikit yang menggunakan dalih kesamaan gender. Wanita bebas memilih jalannya. Mau bekerja atau tidak, wanita memiliki hak yang sama.
Setidaknya begitu yang terjadi dari sebagian teman yang pernah curhat kepadaku, dan yang pernah kutanya.
Fakta ini mengingatkanku pada seorang wanita yang tinggal di sebuah perkampungan yang jauh dari kehidupan kota. Di tempat yang listrikpun belum masuk ke desanya. Air masih harus menimba. Memasak masih menggunakan kayu bakar. Meniup api dengan bambu agar tetap menyala. Dan lampu-lampu penerang dinyalakan dengan minyak tanah. Sungguh melelahkan. Namun ia tiada mengeluh dengan kehidupan ini. Kehidupan yang baginya sudah sangat biasa.
Setiap pagi diawalinya dengan dengan qiyamul lail, membangunkan suaminya turut serta bersamanya. Dan begitu subuh tiba ia panggil putra-putrinya memenuhi panggilan Allah. Dan sholat berjamaahpun ditunaikan.
Bukan rembulan yang ada dalam tatapan teduhnya yang penuh kasih sayang. Juga bukan pendar cahaya bintang di sana, namun di sana ada ketulusan, ketulusan seorang wanita yang sangat biasa. Serta sebuah keikhlasan.
Sebagai istri seorang petani, dia begitu telaten dan sabar mengurus kebutuhan keluarga. Menyiapkan sarapan untuk anak-anak yang akan berangkat sekolah, dan suami yang akan mencari rizki di ladang. Kembali menyibukkan diri dengan kerjakan yang masih menumpuk ketika semua telah pergi. Membersihkan rumah, mencuci piring, mencuci pakaian, dan kembali memasak untuk kebutuhan makan siang. Sebuah pekerjaan yang cukup melelahkan.
Namun, dia tetap tersenyum! Apapun yang sedang ia lakukan ditinggalkannya ketika melihat suaminya mengayuh sepeda memasuki halaman rumah. Menyambutnya dengan selembar handuk kecil yang kemudian diusapkan ke wajah yang lelah, ke badan yang berkeringat. Menyeduhkan secangkir kopi. Dan menemaninya berbincang seraya menyuguhkan makan siang. Menimba air untuk mandi. Sungguh tersirat bangga pada tindak-tanduknya, bangga menjadi ibu rumah tangga. Dan kuyakin, di sanalah kudapati sebuah teladan. Dari wanita kampung yang selalu kukenang. Ibu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar