
Sholaatu minallah wa alfa salam… Samar-samar suara itu mendengung di telinga. Dengan mata terpejam, tangan meraba-raba. Malas. Di balik selimut tebal dan pengaruh kantuk, plus dingin yang menusuk kulit. Suara semakin jelas sebelum akhirnya HP ditemukan dengan sholawat yang dilagukan oleh Group Khasidah Langitan yang khas kanak-kanak. Merdu. Dengan mata yang menyipit, kutatap monitor HP. Memijit tombol open. Sebuah SMS.
"Ukhty, bangunlah… Assholaatu khoirum minnan naom(Sholat lebih baik dari pada tidur). Pukul empat lebih beberapa menit. Waktunya qiamul lail.
Dengan mata yang masih dua watt, ku pijit tombol-tombol huruf pada HPku. Membentuk sebuah tulisan "Syukron katsiira, Ukhty Chalim." Lalu klik send. Ah… beginilah senangnya punyai sahabat. Ia akan selalu mengingatkan kala kita lalai.
Sahabat tidak akan merasa terganggu dengan perbedaan yang ada. Meskipun adanya perbedaan seringkali sangat mencolok. Seperti perbedaanku dengan kedua sahabat terdekatku. Nurul dan Chalim. Keduanya bisa dikata pendiam. Sedangkan aku banyak yang menjuluki burung beo. Kalau sudah bicara nyerocos panjang lebar. Hikz…
Nurul yang selalu bisa mengerti dan memahami watakku, tidak pernah protes sekalipun, meskipun jarang sekali kutelepon ataupun SMS. Chalim yang meskipun usianya lima tahun lebih muda dariku, tapi memiliki kedewasaan melebihi diriku (upz… selalu saja begitu. Jangan-jangan aku ini anak kecil yang terperangkap dalam tubuh dewasa? Hikz…). Ia sangat baik. Menjaga silaturrahmi kepada siapa saja. Keikhlasan selalu terpancar dari jiwanya. Semua orang menyukainya. Setiap kali bertemu, ia selalu tersenyum ramah. Meskipun membawa bawaan yang sangat banyak dan berat di tasnya.
"Bisnis akhirat." Begitu dia menjawab ketika ada yang mengomentari bawaannya. Yang dibawanya adalah buku. Buku-buku koleksinya yang ia pinjamkan kepada teman-temannya, baik dari organisasi maupun di luar organisasi. Sungguh suatu usaha yang sangat mulia. Ia berjuang menebar manfaat kepada teman-temannya melalui buku koleksinya. Dan menggalang dana untuk membantu yayasan yatim-piatu.
Dua tahun lebih aku bersama mereka. Ketika aku dalam gundah, mereka yang menawarkan kedua telinganya untuk mendengarkan keluh-kesahku.
Ketika aku merasa sepi dalam kesendirian, kudapati mereka meneleponku. Untuk menanyakan kabarku. Meskipun aku jarang sekali menanyakan kabar mereka, keduanya tetap menghubungiku. Tanpa bosan. Dan akupun menjadi terbiasa dengan suara-suara mereka setiap hari. Dengan canda-canda mereka. Hingga akhirnya kusadari, hidup tanpa sahabat, bagai kapal tanpa penumpang. Ianya tidak bisa berlayar…
Dan akhirnya, ingin kurengkuh dirimu dengan kedua tanganku, Kawan. Ketika engkau ucapkan kata, "Ukhty, jadikan aku sahabatmu…
Tidak ada komentar:
Posting Komentar